KEDUDUKAN BAHASA ARAB DI INDONESIA



KEDUDUKAN BAHASA ARAB DI INDONESIA

FUNGSI DAN PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN NYA

Oleh : Ali Tsauri Abd Jalil, Lc

A. KEDUDUKAN DAN FUNGSI

Di Indonesia, bahasa Arab berkedudukan sebagai bahasa asing, sejajar dengan bahasa Inggris, Jerman, Prancis, Jepang, Cina, dan lain sebagainya. Dalam kedudukan sebagai bahasa asing, bahasa Arab di Indonesia berfungsi sebagai berikut :

1. Alat Penghubung Antar Bangsa

Sebagai alat penghubung antar bangsa, bahasa Arab cukup berperan, karena :

1.1. sebagai bahasa resmi bagi kurang lebih 20 negara Arab yang terbesar di dua Benua Asia dan Afrika

1.2. Dinyataka sebagai bahasa resmi di lingkungan organisasi PBB sejak tahun 1973

1.3. sebagai bahasa resmi organisasi-organisasi Islam internasional, misalnya Muktamar Alam Islami, Rabithah Alam Islami, dll

1.4. sebagai bahasa resmi dalam komprensi-komperensi Islam internasional, di mana Indonesia menjadi anggota aktif, misalnya : Muktamar Media Massa Islam yang pernah diselenggarakan di Indonesia beberapa tahun lalu.

2. Alat Pembantu Pengembangan Bahasa Indonesia

Setidak-tidaknya pertumbuhan perbendaharaan kata, terutama untuk istilah-istilah dalam peribadatan, filsafat dan tasawuf. Kata-kata bahasa Arab yang di pinjam oleh bahasa Indonesia, meliputi :

2.1. memiliki sinonim dalam bahasa Indoensia, misalnya : “Bakhil” untuk “kikir”, “ta’at” untuk “patuh”, dan “bai’at” untuk “lantik”.

2.2. terjadi perubahan makna/arti :

2.2.1. penyempitan makna, misalnya : ‘alim-ulama’, yang semula bermakna

‘orang yang berilmu’, menyempit artinya menjadi ‘orang yang berilmu agama Islam’ dalam bahasa Indonesia.

2.2.2. perluasan arti, misalnya : ‘arif’ yang semula berarti ‘ orang yang mengetahui’ meluas artinya menjadi ‘orang yang mengetahui pandai, dan bijaksana” dalam bahasa Indonesia.

2.2.3. penyimpangan, misalnya : ‘insaf’ yang dalam bahasa Arab berarti ‘ berbuat adil’, menyimpang maknannya menjadi ‘sadar’

3. Alat pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi dalam Rangka Pembangunan Bangsa

Sekalipun peran ini sekarang boleh dikatakan tidak terlalu besar. Namun para sarjana Barat dan Timur yang mendalami pertumbuhan dan perkembangan dunia Islam, mengakui bahwa selama beberapa kurun waktu pada abad pertengahan, bahasa Arab selain merupakan bahasa agama juga merupakan bahasa yang dipergunakan dalam ilmu pengetahuan dan kebudayaan di seluruh bagian dunia yang berperadaban. Pada saat itu muncul ilmuan-ilmuan terkenal, seperti : Al-Kindi, Ibn Sina, Al-Farabi, Ibn Rusdy, Ibn Khaldun, Al-Khowarizmi, dan lain sebagainya.

Dengan mempelajari bahasa Arab sedikit banyak akan berguna untuk memahami sejarah perkembangan peradaban dunia Islam pada khususnya dan peradaban dunia pada umumnya.

4. Bahasa Agama Islam

Dalam hal ini bahasa Arab berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan intensitas penghayatan dan pengalaman ajaran agama Islam dalam rangka pembinaan kepribadian luhur bangsa.

Mayoritas bangsa Indonesia beragama Islam. Sumber pokok ajarannya Islam, yaitu Al-Quran dan Al-Hadits kedua-duanya berbahasa Arab, disamping buku-buku tentang ajaran Islam sebagian besar berbahasa Arab. Dalam sejarah perkembangan agama wahyu, tidak ada kitab suci yang masih asli bahasa nya kecuali bahasa Al-Quran, tidak ada Al-Quran dengan bahasa lain kecuali bahasa Arab. Maka mempelajari bahasa Arab bagi kaum muslimin,, merupakan kebutuhan utama.

Di samping itu, dalam rangka ibadah yang bersifat ritual, bacaan-bacaan sholat, adzan dan iqomat harus di ucapkan dengan bahasa aslinya, yaitu bahasa Arab.

B. PENGAJARAN BAHASA ARAB DI INDONESIA (tinjauan histories)

1. Bentuk Pertama dan Tertua

Bentuk pengajaran bahasa Arab yang pertama di bumi pertiwi ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan seorang muslim dalam melaksanakan iabadah sholatnya. Dilaksanalan di surau, masjid, pondok pesantren dan bahkan dirumah-rumah keluarga musllim. Materi yang diajarkan adalah surat-surat pendek dalam Al-Quran dan bacaan-bacaan lain serta do’a-do’a yang dibaca dan diucapkan dalam kaitan ibadah sholat.

Sesuai dengan tujuan nya, pengajaran bahasa Arab dalam fase ini bersifat ‘verbalisme’ semata, yakni dapat membaca/mengucapkan teks Arab tanpa harus memahami artinya. Metode cendrung hafalan. Sementara pengenalan huruf Arab mengggunakan metode eja (alphabetic method), atau lebih dikenal dengan ‘kaidah baghdadiyah’.

2. Bentuk Kedua, Menggunakan Metode Qawaid wat Tarjamah (طريقة القواعد والترجمة)

Pengajaran bentuk pertama yang bersifat ‘verbalisme’ tidak memuaskan banyak orang. Bacaan-bacaan sholat haruslah di fahami dan di hayati maknanya, agar halekat sholat sebagai media komunikasi dengan Al-Kholiq (sang pencipta) benar-benar dapat dilaksanakan dalam arti sesungguhnya. Dari sini muncullah pengajaran bahasa Arab dalam fase kedua yang erat hubungannya dengan Pendalaman Ajaran Agama Islam.

Bentuk kedua ini tumbuh dan berkembang di pondok pesantren, sementara bentuk pertama masih berlangsung di surau, masjid, dan rumah-rumah keluarga muslim. Materi yang disampaikan dalam Pengajaran Bahasa Arab bentuk kedua ini, berupa pelajaran agama Islam yang pada semua pondok pesantren di Nusantara menggunakan buku-buku yang hampir sama dalam semua pelajaran, dengan bidang-bidang yang meliputi :

a. bidang Fiqh, antara lain : Sullamun Najah, Sullamut Taufiq, Fathul Qorib,

Fathul Mu’in, Fathul Wahab, dan Al-Asbah wa Nadhoir.

b. Bidang Tauhid : Aqidatul Awam

c. Bidang Hadits : Arba’in Lin Nawawi, Bulughul Maram, Tajridus Shohih, Shohih Al-Bukhari, Sohihih Muslim.

d. Bidang Tafsir : Tafsir Jalalin

e. Bidang Gramatika : Al-Jurmiyah, Alfiah Ibn Malik, Al-Amtsilah At-Tasrifiyah, Nadhom Al-Maqsud.

f. Bidang Balaghoh : Jawahirul Balaghoh

Dalam praktiknya, metode Qowaid wa Tarjamah ini menggunakan kata-kata tertentu sebagai simbol yang menunjukkan fungsi suatu kata dalamkalimat, misalnya : kata ”utawi” untuk mubtada’, ”iku” untuk khober, ”sopo/opo” untuk fa’il, :ing” untuk maf’ul bih, ”kang” untuk na’at, dan lain sebagainya.

Pengajaran Bahasa Arab bentuk kedua ini sekali pun belum memuaskan betul, harus diakui telah menghasilkan ulama’-ulama’ Islam yang tak terhitung banyaknya. Akan tetapi dilihat dari segi penguasaan mereka terhadap bahasa Arab, kemampuan yang dicapai adalah semata-mata kemampuan Receptif (membaca dan mendengar).

3. Menggunakan Metode Langsung (الطريقة المباشرة)

Pengajaran Bahasa Arab bentuk ini untuk memenuhi tuntutan kemampuan bahasa Arab yang semakin berkembang, bukan hanya kemampuan receptive (membaca dan mendengar), tetapi bahasa sebagai media komunikasi secara timbale balik, baik lisan maupun tertulis. Jadi diperlukan kemampuan ekspresif/produktif (berbicara dan mengenukakan isi hati secara tertulis).

Hal ini ditandai dengan berdirinya lembaga-lembaga pendidikan dan pondok pesantren yang memberikan Pelajaran Agama Islam dengan menggunakan Bahasa Arab sebagai bahasa pengajarnya.

4. Merekomendasikan, digunakannya Metode Sam’iyah Syafahiyah (المريقة السمعية الشفهية)

Dengan pendekatan komunikatif

Pengajaran Bahasa Arab dengan metode dan pendekatan ini, dimaksudkan agar semua keterampilan berbahasa (المهارات اللغوية) baik mendengar, berbicara, membaca, menulis, dan menterjamah dapat dicapai secara optimal dan terpadu. Hanya saja kebeerhasilan Pengajaran Bahasa Arab bentuk keempat ini bergantung kepada beberapa syarat, antara lain :

  • Adanya tenaga guru yang memiliki kemampuan Bahasa Arab baik secara Receptif ( membaca dan mendengar) maupun secara ekspresif (berbicara dan menulis)
  • Tersedia media pengajaran atau alat bantu yang memadai dan guru dapat memfungsikannya
  • Dilaksanakan tidak dalam kelas besar, kelas bahasa terdiri dari 20 sampai 30 orang idealnya

C. PRINSIP DAN ASAS PEMBELAJARAN BAHASA ARAB

I. Ada tiga prinsip bagi pembelajaran bahasa Arab (مبادئ تعلّم اللغة)

  • Bahasa itu mudah (لاتوجد اللغة صعبة/اللغة سهلة)
  • Bahasa tidak memerlukan kecerdasan (اللغة لاتحتاج الى الذكاء)
  • Bahasa memerlukan lingkungan dan praktik (اللغة تحتاج الى البيئة والممارسة)

II. Pembelajaran Bahasa Asing (arab) Mempunyai Beberapa Asas, antara lain :

1. Asas Skala Prioritas Pengajaran (أولويات التقديم)

1.1. Ajarkan menyimak dan berbibara sebelum mengajarkan membaca dan menulis

1.2. Ajarkan kalimat dan bukan kata

1.3. Ajarkan kata-kata yang perlu, walaupun ada diantaranya yang mu’tal, sebelum Mengajarkan kata-kata yang lain.

1.4. Ajarkan bahasa dengan kecepatan yang wajar, secepat yang biasa di lakukan Penutur asli (Native Speaker).

2. Asas Akurasi (الدقة)

Maksudnya guru jangan membiarkan sis membuat kesalahan dalam berbahasa Arab (harus segera dibetulkan), sebab kebiasaan salah sulit diperbaiki.

3. Asas Gradasi (التدرّج)

3.1. Ajarkan materi pelajaran baru setelah dikuasai pelajaran sebelumnya, yang ada kaitannya dengan pelajaran baru.

3.2. Pelajaran baru yang diajarkan harus berdasarkan pelajaran sebelumnya.

4. Asas Motivasi (عنصر التصوبق)

4.1. Selalu mendorong siswa (memujinya) setelah ia melakukan tugasnya dengan baik.

4.2. Menimbulkan semangat kompetensi

4.3. Memasukkan unsur bermain dalam latihan

4.4. Adanya hubungan kependidikan antara siswa dan guru

4.5. Memvariasikan kegiatan

5. Asas Pemantapan (الصلابة والمتانة)

5.1. Belajar melalui kegiatan praktik

5.2. Menjelaskan makna sedapat mungkin secara kongkrit

5.3. Memberikan penjelasan Qowa’id dengan mengulang-nngulang amtsilah (contoh)

D. PROBLEMA PENGAJARAB BAHASA ARAB DI INDONESIA

Barang siapa ingin mempelajari bahasa Asing (arab) berarti ia harus ”sadar” dengan seluruh daya upaya untuk membenntuk kebiasaan baru. Sedangkan pada saat mempelajari bahasa Ibu (bahasa nasional) proses itu berjalan ”tanpa sadar”. Pada saat ini pula siswa berusaha mengkaitkan dan membuat persamaan dan perbedaan antara bahasa ibu (bahasa nasional) dengan bahasa Asing yang sedang dipelajari, maka siswa Indonesia pun menghadapi problem jika mempelajari bahasa Arab. Ada 3 faktor yang menjadi problema pengajaran bahasa Arab di Indonesia :

v Faktor bahasa (linguistik)

v Faktor sosial dan psikologis

v Faktor metode pengajaran

1. Faktor Linguistik (bahasa)

Penyebabnya adalah adanya perbedaan sistem pada kedua bahasa Indonesia dan bahasa Arab, baik mengenai sistem tata bunyi (phonetik), tata bahasa (shorf/morfologi dan nahwu/sintaksis), arti kata-kata (semantik), maupun sistem penulisan kedua bahasa.

sistem tata bunyi (phonetic)

dalam pengucapan beberapa fonem Arab, siswa Indonesia tidak menjumpai persamaan dalam bahasa Indonesia, misalnya :

1.1.1 Pengucapan bunyi beberapa huruf :

خ : خوف ث : ثلث

ذ : لذيذ ح : حكم

ق : قليل ص : صالح

ش : شارع ض : ضابط

ط : طالب ع : عالم

ظ : ظالم غ : غريب

1.1.2. Pengucapan bacaan panjang (harfu mad)

1.1.3. Pengucapan bunyi huruf bersaddah

2. Tata bahasa/garamatika (shorf & nahwu)

1.2.1. Bentuk kata (shorf/morfologi)

Perbendaharaan kata dalam bahasa Arab banyak diperoleh dengan cara ”mencari pecahannya” (الإستقاق), yang hal ini jarang dijumpai dalam bahasa Ibu ataupun bahasa nasional, misal nya perubahan dari كتب, menjadi, مكتب, كتابة, مكتوب, كاتب, اكتب, يكتب, juga ada i’lal nya dan ibdal (قام - قوم) serta sebagai bentuk masdar, baik sima’i maupun qiyasi.

1.2.2. Susunan kalimat (nahwu/sintaksis)

Dalam bahasa Indonesia, susunan kalimat menggunakan susunan SPO atau DM, sedang dalam bahasa Arab bisa SPO bisa tidak bahkan yang terbanyak tidak SPO (جملة فعلية). Bahasa Arab mengenal tanda i’rab (harakat) bahasa Indonesia tidak, belum lagi adanya keharusan menjaga persesuaian antara 2 kata (arab) yang berkaitan (نعت منعوت), dalam i’rabnya. Mudzakkar mu’annatsnya, mufrad tasniyah, jama’ ma’rifat dan nakiroh nya, contoh :

Bahasa Indonesia Bahasa Arab

Muhammad menulis surat محمد يكتب الدرس

يكتب محمد الدرس

Buku ini baru هذا الكتاب جديد

Bukan كتاب هذا جديد

- Arti kata-kata (semantic/النظام الدلالي)

Dalam segi arti kata-kata, siswa mengahdapi kesulitan dengan banyaknya kata-kata Arab yang berubah artinya dengan sedikit perubahan dalam kalimat, misalnya :

- قام – يقوم (berdiri) : يقوم محمد امام السبّورة

Artinya : Muhammad berdiri di depan papan tulis

- قام – يقوم ب (melaksanakan) : من الذى يقوم بهذا العمل

Artinya : Siapakah yang mengerjakan/melaksanakan pekerjaan ini?

Hal yang demikian itu masih banyak terjadi sekalipun sudah mendapat bantuan adanya kurang lebih 13,5% kosa kata Arab yang sudah di Indonesiakan (menurut Penelitian Pusat Pengkajian dan Riset IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta 1987).

1.4. Sistem penulisan kedua bahasa :

Dari segi cara penulisan, ada perbedaan antara bahasa Indonesia dan bahasa Arab ; bahasa Indonesia dengan huruf latin dan dari kiri ke kanan, sedang bahasa Arab dari kanan ke kiri, hal ini cukup untuk menyita waktu untuk latihan siswa pada tingkat pemula.

2. faktor sosiologi dan psikologi

2.1. kurang nya perhatian para guru bahasa Arab di madrasah-madrasah untuk berbicara dengan ataupun mendorong para siswanya untuk berbahasa Arab

2.2. kurangnya faktor penunjang pelajaran bahasa Arab di madrasah-madrasah pada umumnya, karena materi pelajaran yang lain (seperti fiqh, hadits, dsb) disajikan dalam bahasa Indonesia.

2.3. tidak adanya media elektronik (radio/televisi) berbahasa Arab, ataupun non elektronik (majalah, surat kabar) dalam bahasa Arab yang dengan mudah dapat diperoleh oleh guru maupun siswa.

2.4. kebanyakan siswa kurang bergairah/berminat berbahasa Arab, bahkan merasa malu berbahasa Arab, karena menjadi obyek olok-olokan teman-temannya ; padahal motivasi mempelajari bahasa Arab sebenarnya sangat kuat, karena bahasa Indonesia sebagai bahasa agama mayoritas penduduk Indonesia, dimana kitab suci Al-Quran dan Hadits Nabi yang menjadi sumber pokok ajaran-ajaran Islam temaktub dalam bahasa Arab, belim lagi kebanyakan buku-buku agama yang sebagaian besar juga dalam bahasa Arab.

3. faktor yang terkait dengan metode pengajaran

Kendala yang dihadapi pengajaran bahasa Arab dalam masalah ini adalah karena kurang terpenuhinya secara maksimal persyaratan yang berhubungan dengan proses belajar mengajar bahasa Arab itu sendiri, diantaranya :

3.1. metode :

Dewasa untuk pengajaran bahasa Asing (termasuk Arab) derekomendasikan menggunakan metode Sam’iyah Safahiyah (the Aural-Oral Method), dan ini berhasil jika terpenuhi adanya tenaga guru yang baik dan fasih, dapat mengguanakan adanya media pengajaran atau alat bantu yang memadai, dan mampu menjelaskan pelajaran memakai bahasa Arab (bahasa Arab sebagai bahasa pengantar pengajaran)

3.2. materi :

Minimnya buku paket bahasa Arab yang sesuai dengan kurikulum, dan karena buku paket yang ada karena satu dan lain hal, kebanyakan siswa tidak memilikinya, mereka hanya mengharap catatan guru saja, padahal waktu yang tersedia sangat sempit, materi pendukung juga sangat kurang, misalnya : kamus Arab-Indonesia, buku bacaan berjenjang LKS, dsb.

3.4. alat bantu :

Hanya sedikit sekali jumlah madrasah yang dilengkapi alat bantu pengajaran bahasa Asing yang cukup memadai baik media visual maupun audio ataupun audio-visual, mengingat keterbatasan dana yang dihimpun.

3.5. Tenaga pengajar :

Guru yang memenuhi persyaratan sangat kurang, masih langkahnya guru yang mahir berbahasa Arab secara aktif, kurangnya guru yang berpendidikan bahasa Arab, sehingga dipergunakan lah guru yang berpendidikan lain, masih adanya guru yang kurang berkonsentrasi penuh dengan pofesinya (dengan melakukan pekerjaan sosial yang lain).

3.6. Siswa

Sangat banyaknya jumlah siswa di setiap kelas (idealnya kelas bahasa 20-30 siswa), disamping bercampurnya menjadi satu (hetrogen) antara lulusan SD-MI, SLTP-MTS, SMU-ALIYAH, dsb.

PENYELESAIAN PROBLEM

1. Untuk mengatasi problem kebahasaan, baik yang menyangkut cara pengucapan bahasa, bentuk kata, susunan kalimat, maupun arti kata-kata, hendaknya dalam PBM digunakan metode Sam’iyah Safahiyah (bila saranannya terpenuhi), jika tidak memungkinkan maka digunakan metode campuran (الطريقة الإنتقائية)

2. Dalam mengatasi problem I’rob (harakat) yang perlu diperhatiakan :

o Bagi pemula :cukup dengan mengintefsikan driil (latihan kebahasaan) tanpa diajarkan Qowa’id (nahwu/shorf)

o Setelah fase itu, barulah diajarkan nahwu wadhifi (hanya menurut fungsi penggunaannya tanpa analisis falsafi).

3. Mengenai kosa kata hendaknya dipilihkan yang sesuai dengan fungsi dipelajari nya bahasa Arab di Indonesia (sebagai bahasa agama) dan yang sudah banyak dikenal oleh kaum Muslimin di Indonesia.

4. Penyelesaian problem yang mungkin diterapkan di madrasah-madrasah kita, antara lain :

  • Memberi dorongan kepada siswa untuk bergairah mempelajari bahasa Arab, terutama dilingkungan sekolah.
  • Menciptakan lingkungan bahasa arab di sekolah, misalnya : pengumuman atau peraturan-peraturan ditulis dalam bahasa Arab.\
  • Mengadakan program wajib bicara dengan bahasa Arab.

5. Perlu disusun buku paket untuk setiap jenjang pengajaran dengan memperhatikan hal-hal berikut :

  • Pengajaran bahasa Arab bagi siswa Indonesia berbeda dengan pengajaran bahasa Arab untuk siswa Arab
  • Dipilihkan kosa kata yang sesuai dengan Agama
  • Alokasi waktu yang disediakan kurikulum
  • Kebanyakan madrasah kurang memiliki alat bantu pengajaran bahasa Arab, baik visual maupun audio

6. Perlu disiapkan materi pembantu, misalnya buku bacaan berjenjang, buku LKS, kamus dua bahasa maupun alat bantu yang lain baik visual, audio maupun audio-visual.

7. Pengajaran bahasa didalam kelas besar tidak bisa digunakan metode sam'iyyah safahiyah, maka sebaiknya digunakan metode campuran

8. Untuk mengatasi perbedaan kemampuan siswa (karena heterogen), hendaknya digunakan sistem modul.

9. Untuk mengatasi kekurangan tenaga guru yang mumpuni (profesional) perlu diadakan penataran-penataan yang bertujuan :

  • Menumbuhkan dan meningkatkan keterampilan berbicara
  • Menguasai berbagai macam metode pengajaran bahasa Asing yang tepat untuk siswa Indonesia
  • Membekali ilmu bahasa (linguistik) khususnya yang erat hubungannya dengan bahasa, misalnya : analisis konstrastif (التحليل التقابلي)
  • Memberikan kemampuan penggunaan media pengajaran secara optimal, baik audio maupun visual, untuk memberikan penjelasan pengertian kata maupun kalimat, dengan tanpa menggunakan bahasa Ibu
  • Membekali ilmu pendidikan dan ilmu jiwa untuk diterapkan dalam PBM

SEBUAH HARAPAN

Di akhir tulisan ini sederhana ini di kemukakan rambu-rambu untuk mengasumsikan adanya pendekatan komunikatif dalam pengajaran bahasa Asing (Arab) itu :

  • Bahasa adalah ujaran dan bukan tulisan
  • Bahasa adalah seperangkat kebiasaan
  • Ajarkan bahasa bukan tentang bahasa
  • Jadikanlah bahasa sebagai alat informasi, jangan menginformasikan tentang bahasa
  • Fungsi bahasa adalah sebagai alat komunikasi dan interaksi
  • Struktur bahasa adalah hanyalah mencerminkan kegunaan fungsional dan komunikatifnya

Bila rambu-rambu tersebut direspon secara positif dan direfleksikan dalam pembelajaran bahasa Asing (Arab) oelh pelaku pembelajaran (para pengajar), maka diharapkan proses pembelajaran bahasa Arab di Indonesia pada umumnya dan di madrasah pada khususnya dapat diberdayakan dengan baik. Tentunya pembelajaran tersebut bermuara kepada terbekalinya anak didik dengan kemampuan receptif التحسيل (mendengar dan membaca) serta kemampuan ekspresif/produktif التعبير (berbicar dan mengemukakan isi hati secara lisan maupun tulisan). Dan bila semua praktisi serta pengajar bahasa Arab menyadari kekurangan kemudian berkenan dengan mencari solusinya, maka peserta didik yang sudah kental dengan bahasa Arab akan ikut membiasakan diri menggunakannya sebagai alat komunikasi, minimal ditempat lingkungan tempat mengajarnya. Semoga dan Semoga !!

****

BIBLIOGRAFI

- Ta'imah, Rusydi Ahmad, Ta'lim al-Arobiyyah lil ghoir al-Natiqina biha Munahijuhu wa Asalibuhu (Rabath : INSESCO, 1998)

- Al-Qosimi, Ali Muhammad, Ittijahaat haditsah fi Ta'lim al-Arobiyyah li al-Natiqina bi Lughot Ukhro, (Riyadh : Malik Su'ud University 1979)

0 komentar:

Poskan Komentar

Followers