Tasawuf

TASAWUF
Oleh : Husni Mubarak Rustamaji


Ilmu tasawuf merupakan salah satu ilmu syariat baru di dalam agama Islam. Sebenarnya, metode kaum ini (kaum sufi) telah ada sejak masa para sahabat, tabiin dan ulama-ulama penerusnya, sebagai jalan kebenaran dan petunjuk. Inti tasawuf adalah tekun beribadah, memutuskan hubungan dari selain Allah, menjauhi kemewahan dan kegemerlapan duniawi, meninggalkan kelezatan harta dan tahta yang sering dikejar kebanyakan manusia dan mengasingkan diri dari manusia untuk beribadah. Tasawuf berperan dalam membersihkan hati sanubari. Karenanya tasawuf banyak berurusan dengan dimensi esoterik (batin) dari manusia. Praktek ini populer di kalangan para sahabat dan ulama terdahulu. Ketika tren mengejar dunia menyebar di abad kedua dan setelahnya, manusia mulai tenggelam dalam kenikmatan duniawi, orang-orang yang mengkhususkan kepada ibadah disebut sufi”. Lebih lanjut, pembahasan mengenai tasawuf ini secara rinci akan penulis bahas dalam sub-sub di bawah ini :

A. Arti Tasawuf

Dalam mengajukan teori tentang pengertian tasawuf, para ahli berbeda pendapat dalam mengemukakan pendapatnya, pengertian tasawuf dapat dilihat menjadi beberapa macam pengertian diantaranya :

1. Tasawuf berasal dari istilah ahlu suffah yang berarti sekelompok orang di masa Rasulullah yang hidupnya benyak berdiam diserambi-serambi masjid dan mereka mengabdikan hidupnya untuk beribadah kepada Allah.

2. Tasawuf berasal dari kata shafa yang berarti sebagai nama bagi orang-orang yang bersih atau suci, maksudnya adalah orang-orang yang mensucikan dirinya di hadapan tuhanya.

3. Tasawuf adalah suatu ilmu yang dengannya dapat diketahui hal ihwal kebaikan dan keburukan jiwa, melangkah menuju keridho'an Allah dan meninggalkan larangannya menuju kepada perintahnya.

4. Tasawuf adalah seorang hamba yang setiap waktunya digunakan untuk mengingat kepada Allah.

Dari beberapa definisi mengenai tasawuf di atas dapat penulis simpulkan, bahawa tasawuf adalah suatu ilmu yang mempelajari usaha membersihkan diri dengan cara melakukan ibadah kepada Allah, mengikuti syari'at Rasululloh dan memdekatkan diri serta untuk mempaeroleh keridho'annya dan kebahagian di akherat.

B. Sumber Tasawuf

Pembahasan mengenai asal-usul atau sumber tasawuf memang masih menjadi pembicaraan banyak orang (ahli). Berbagai pendapat telah dikemukakan, setengahnya mengatakan bahwa pengambilannya adalah semata-mata agama Islam Quran dan Hadits. Dan banyak sekali Urientalis Barat berpendapat bahwa pokok pengambilannya ialah ajaran Persia, atau Hindu, atau agama Nasrani atau Filsafat Yunani, dan ada yang berpendapat bahwa sumber tasawuf Islam dari semua itu.
Kaum sufi sendiri, berkata bahwa pokok pengambilan hidup kerohanian itu ialah agama Islam sendiri. Pertama Quran, kedua Hadits Nabi dan juga kehidupan para sahabat-sahabtanya. Dalam al-Quran, seperti firman Allah :
وما رميت إذ رميت ولكنّ الله رمى
"Tidaklah engkau yang melempar ketika engkau melempar itu, melainkan Allah lah yang melempar"

Menurut pendapat kaum shufi, ayat ini adalah dasar yang kuat sekali dalam hidup kerohanian. Dasar yang ialah hadits Nabi. Terutma hadits Qudsi, yaitu suatu hadits istimewa yang diterima oleh Nabi Muhammad. Sebuah hadits Qudsi itu yang sangat dipegang oleh kaum sufi ialah hadits "Kuntu Khanzan Makhfiyyan" : "Aku adalah suatu perbendaharaan yang tersembunyi, maka inginlah engkau supaya diketahui siapa aku , maka kujadikanlah makhluk ku. Maka dengan akulah mereka mengenal aku".
Diantara hadits Nabi yang lain yang sangat merka jadikan pedoman ialah : "Mushumu yang paling besar ialah diri mu sendiri, yang ada dalam badan mu". Dengan berdasar pada hadits ini, mereka melakukan mujahadah (perjuangan), riadhah (latihan jiwa), muhasabah (introspeksi).


C. Tujuan Tasawuf

Tujuan tasawuf adalah menyucikan jiwa, hati dan menggunakan perasaan, Tasawuf juga memungkinkan seseorang melalui amalan-amalan yang istiqamah (konsisten & kontinyu) dalam pengabdian kepada Tuhan, memperdalam kesadarannya dalam pelayanan dan pengabdiannya kepada Tuhan.
Ini memungkinkannya untuk ‘meninggalkan’ dunia ini, yang hanya merupakan tempat singgahnya yang sementara. Manusia mesti menyadari sepenuhnya bahwa dunia ini hanya tempat ia menumpang, dan bukan tempat menetap atau tujuannya.
Ia mesti berjaga-jaga agar tidak terjebak oleh keindahan lahir dunia yang telah menghancurkan banyak kehidupan manusia. Dunia lahir ini telah banyak menarik hasrat, nafsu dan khayalan manusia sehingga mereka lupa dan lalai dari tujuannya.

D. Maqamat dan Hal

1. Maqomat
Secara harfiah maqamat berasal dari bahasa Arab yang berarti tempat orang berdiri atau pangkat mulia. Istilah ini selanjutnya digunakan untuk arti sebagai jalan pandang yang ditempuh oleh seorang sufi untuk berada dekat dengan Allah. Abu Nasr al-Sarraj al-Tusi dalam kitab al-Luma' menyebutkan bahwa jumlah maqomat ada tujuh :

1. Al-Zuhud
Secara harfiah al-zuhud berarti tidak ingin sesuatu yang bersifat keduniawian, sedangkan menurut Harun Nasution zuhud artinya hidup meninggalkan dunia dan hidup kematerian.
Zuhud merupakan salah satu ajaran agama yang sangat penting dalam rangka mengendalikan diri dari kehidupan dunia. Orang yang zuhud lebih mengejar atau mengutamakan kebahagiaan hidup di akherat yang kekal dan abadi, dari pada kehidupan dunia yang fana' dan hanya sepintas lalu. Hal ini dapat dipahami dari isyarat ayat yang berbunyi :
قل متاع الدنيا قليل والأخيرة خير لمن اتقى ولاتظلمون فتيلا (النساء : 77
Mengenai hakekat zuhud, Al-Ghazali menjelaskan : bahwasannya zuhud bukan hanya sekedar meninggalkan harta, akan tetapi bagi orang yang zuhud (الزاهد) harus memiliki tiga hal dalam jiwanya :
a. tidak merasa senang dengan yang ada dan tidak merasa sedih dengan yang tidak ada (hilang).
b. Adanya celaan dan pujian tidak mempengaruhinya
c. Kecintaan dan kesenagannya dikarenakan Allah

2. Al-taubah

Kata al-taubah berasal dari bahasa Arab taba, yatubu, taubatan yang artinya kembali, sedangkan yang dimaksud dalam kalangan sufi ialah memohon ampun atas segala dosa dan kesalahan disertai janji yang sungguh-sungguh tidak akan mengulangi perbuatan dosa tersebut, yang disertai dengan melakukan amal kebajikan.

3. Al-Waro'
Al-wara' artinya sholeh, menjauhkan diri dari perbuatan dosa. Dalam pengertian sufi al-wara' adalah meninggalkan segala sesuatu yang didalamnya terdapat keraguan antara halal dan haram (syubhat).

4. Al-Faqr
Secara harfiah al-faqr diartikan sebagai orang yang berhajat, butuh atau miskin. Sedangkan dalam pandangan sufi al-faqr adalah tidak meminta lebih dari apa yang telah ada pada diri kita. Tidak meminta rezeki kecuali hanya untuk dapat menjalankan kewajiban-kewajiban.

5. Al-Sobr
Secara harfiah al-sobr (sabar) berarti tabah hati. Menurut Zun al Nun al-Mishry, sabar artinya menjauhkan diri dari hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Allah, tetapi tenang ketika mendapatkan cobaan dan menampakkan sikap cukup walaupun sebenarnya berada dalam kefakiran dalam bidang ekonomi.

6. Al-Tawakkal
Secara harfiah tawakkal berarti menyerahkan diri. Menurut Sahal bin Abdullah tawakkal adalah apabila seorang hamba dihadapan Allah seperti bangkai dihadapan orang yang memandikannya, ia mengikuti semaunya yang memandikan, tidak dapat bergerak dan bertindak. Lebih lanjut Abdullah ba'lawy menjelaskan, esensi tawakkal ialah keyakinan hati bahwa seluruh perkara datangnya dari Allah serta tidak ada dzat yang dapat memberi sesuatu, memberi kemudaratan, kemanfaatan, dan dzat yang dapat mencegah selain Allah.

7. Al- Ridlo
Secara harfiah ridha artinya rela, suka, senang. Harun Nasution mengatakan ridla berarti tidak berusaha, tidak menentang kada' dan qodar Tuhan. Mengeluarkan perasaan benci dari hati sehingga yang tertinggal didalamnya perasaan senag dan gembira.
Manusia biasanya merasa sukar menerima keadaan-keadaan yang biasa menompa dirinya, sepeti kemiskinan, kerugian, kehilangan barang, pangkat dan kedudukan, kematian dan lain-lain yang dapat mengurangi kesenangannya. Yang dapat bertahan dari berbagai cobaan itu hanyalah orang-orang yang telah memiliki sifat ridlo.

2. Hal
Menurut Nasution, hal merupakan keadaan mental, seperti perasaan senag, sedih, takut dan sebagainnya. Hal yang biasa disabut sebagai hal adalah takut (al-khauf), rendah hati (al-tawadlu), patuh (al-Taqwa), ikhlas (al-Ikhlas), rasa berteman (al-Uns), gembira hati (al-Wajd), berterima kasih (al-Syukr).
Hal berlainan dengan maqam, buka diperoleh atas usaha manusia, tetapi diperdapat sebagai anugrah dan rahmat dari Tuhan. Dan berlainan dengan maqam, hal bersifat sementara, datang dan pergi, datang dan pergi bagi seorang sufi dalam perjalanannya mendekati Tuhan.

KESIMPULAN

Dari paparan mengenai tasawuf di atas, dapat penulis simpulkan sebagai berikut:

o Ilmu tasawuf adalah ilmu yang menjelaskan tata cara pengembangan rohani manusia dalam rangka mencari dan mendekatkan diri kepada Allah dan orang nya disebut sufi. Dengan pengembangan rohani, kaum sufi ingin menyelami makna syari'ah secara lebih mendalam dalam rangka menemukan hakekat dan ajaran agama Islam.

o Yang menjadi sumber kaum sufi ialah : Al-Quran, Hadits Nabi, Praktek kehidupan para sahabat-sahabat nabi, dan para Ulama'

o Tasawuf bertujuan untuk menyucikan jiwa, hati dan untuk lebih mendekat diri kepada Allah swt.

o Maqamat ialah jalan pandang yang ditempuh oleh seorang sufi untuk berada dekat dengan Allah. Mayoritas ulama' menyebutkan bahwa jumlah maqamat ada tujuh, sebagai mana yang dikatakan oleh Abu Nasr al-Sarraj al-Tusi dalam kitab al-Luma', yaitu : Al-Zuhud, al-Taubah, al-Wara', al-Faqr, al-Shobr, al-Tawakkal, dan al-Ridlo.

o Hal ialah merupakan keadaan mental, seperti perasaan senang, sedih, takut dan sebagainnya. Hal yang biasa disabut sebagai hal adalah takut (al-khauf), rendah hati (al-tawadlu), patuh (al-Taqwa), ikhlas (al-Ikhlas), rasa berteman (al-Uns), gembira hati (al-Wajd), berterima kasih (al-Syukr).



DAFTAR PUSTAKA



- Ba'lawi Abdullah al-Haddad, Nasho'ih al-Diniyah, Surabaya : Al-Haramain
- Hamka, Tasawuf Perkembangan dan Pemurnian, Jakarta : Pustaka Panjimas. 1993
- Jamaluddin al-Qosimi, Mau'idhoh al-Mu'minin, Surabaya : Al-Hidayah, juz II
- Nata Abuddin, Akhlak Tasawuf, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2008
- Yunus Mahmud, Kamus Arab Indonesia, Jakarta : Hidakarya Agung, 1990
0 komentar:

Poskan Komentar

Followers